Media atau pers di Amerika telah menjadi suatu bentuk kekuasaan yang baru yang bahkan sanggup mengendalikan alur roda pemerintahan negeri tersebut. Agaknya pernyataan Foucault bahwa pengetahuan merupakan bagian dari kekuasaan begitu menemukan kebenarannya pada realita media di Amerika. Sebagai salah satu alat untuk membentuk pengetahuan publik, media sangatlah efektif efeknya pada pemerintahan amerika. Fakta bahwa selain opini publik terbentuk salah satunya oleh kuasa media membuat pemerintah Amerika berusaha mengendalikan media di atas prinsip kebebasan persnya atau yang akan terjadi adalah sebaliknya, pemerintahlah yang dikendalikan media. Kita mungkin telah tahu lagu American Idiot karya grup music terkenal Amerika Green Day yang melukiskan betapa besar pengaruh media di Negara itu. Beberapa ketidakstabilan politik dalam sejarah Amerika pun menjadi bukti sahih dari lagu tersebut, sebagai contoh adalah kasus Watergate presiden Nixon yang membuatnya mengundurkan diri, lalu skandal antara Bill Clinton dan Monica Lewinsky yang pada akhirnya menjadi pemicu buruknya citra presiden tersebut di mata Amerika dan dunia, dan yang terakhir adalah foto-foto mengenaskan tentang keaadaan tawanan perang Irak yang menyebabkan semakin banyak penduduk amerika yang kontra atau menentang perang tersebut. Semua menjadi bukti betapa besar pengaruh media di Amerika, entah itu berefek baik atau buruk pada pemerintahannya.
Kebebasan pers yang selama ini diagung-agungkan oleh kalangan pemerintah Amerika sendiri sepertinya harus mulai dikaji ulang. Meskipun di sana sudah terdapat batasan-batasan dalam perundang-undangan Amerika, tetapi tetap saja kebebasan media masih sulit dibendung arusnya dan telah menjadi salah satu bentuk alat kekusaan baru. Apalagi dengan adanya berbagai bentuk media yang beragam dari media cetak, televisi, radio sampai internet, masyarakat lebih mudah mengakses berita dan teknologi informasi yang berkembang pesat membuat arus komunikasi dan informasi dapat berlangsung dengan begitu cepat antar semua titik di belahan dunia manapun. Seharusnya pemerintah Amerika dapat memperhitungkan hal ini sebelumnya. Memang media juga bias dijadikan alat kekuasaan yang efektif untuk mendukung kebijakan pemerintah Amerika, tetapi mereka juga harus sadar akan bahayanya. Media adalah salah satu alat kekuasaan yang sulit dikontrol oleh pemerintah dari Negara apapaun kecuali jika ada larangan kebebasn pers pada Negara tersebut. Masalahnya Amerika adalah Negara yang terkenal menjunjung tinggi demokrasi dan kebebasa, tidak heran jika kebebasan pers pun menjadi sesuatu yang mutlak di negeri Liberty ini. Bahwa kebebasan media pun memiliki akibat yang baik bagi sehatnya pemerintahan sebuah Negara memang benar, namun sebagai Negara dengan pemerintahan yang begitu dikuasai media seperti itu, Amerika harus memilih antara mepertahankan citranya sebagai symbol demokrasi dunia dengan konsep kebebasan persnya atau mulai memberi batasann yang lebih keras pada media untuk mengurangi pengaruhnya pada masyarakat dan lebih jauh lagi untuk mengendalikan alat kekuasaan ini.
Sabtu, 30 Mei 2009
Resume Bulan Mei
1. TPD
Interpersonal skils. Interpersonal skils didefinisikan sebagai kemampuan berdamai dan berhubungan baik dengan diri sendiri. Dalam artian seorang pemimpin harus selesai dengan dirinya dulu sebelum dia berangkat untuk merngurus anak buahnya. Jika seorang pemimpin tidak memiliki kemampuan untuk mendamaikan dirinya sendiri, niscaya akan banyak kepentingan organisasi yang dia korbankan untuk kepentingannya sendiri. Dia harus dapat mengendalikan emosinya dan mengarahkannya untuk sesuatu yang baik karena bahkan sebuah amarah bisa menjadi sebuah alat untuk memotivasi anak buahnya. Dia harus bisa menyeimbangkan antara otak dan hatinya. Dua hal ini sangat penting sebagai aspek yang menentukan sebuah pengambilan keputusan yang akan berefek pada anak buahnya.
2. Training Jurnalistik Dan Studi Pustaka
Dalam kesempatan kali ini, kami membahas bagaimana tulisan dalam bahasa asing dibuat dan teknik menaggapi tulisan orang lain. Sebagia contohnya adalah tulisan P. Sapto sendiri yang berjudul Why Should be Afraid with Islamic Party?.tulisan ini dimuat untuk membalas tulisan yang bernada miring tentang eksistensi partai-partai Islam yang ada dalam pemilu Indonesia. Sedangkan studi pustaka membahas buku bertajuk “Model Kepemimpinan dalam Islam” Karya Mustofa M. Thalhah. Buku ini mencantumkan intisari serta rangkuman mengenai pemimpin dalam dunia Islam, misalnya : Mustafa as Sibai, Izzudin al Qassam, Muhammad bin Badis, Maulana Abul A’la al Maududi, Said badi’uzzaman an Nursi yang merupakan pemimpin-pemimpin hebat pada masanya.
3. KIK
Ikhsanul ’amal dan Etos Kerja dalam Perspektif Islam adealah tema KIK kali ini yang disampaikan oleh Ust. Bambang yang menjabat sebagai salah satu direktur di perusahaan Indosat. Materi yang sempat beliau sampaikan adalah mengenai sebab-sebab kemunduran umat (menurut al Ghazali) sebagai berikut:
1. Meninggalkan Sunatullah
2. Bodoh terhadap dunia
3. Merebaknya faham Jabbariyah
4. Kemunduran IPTEK dan pemikiran
5. Lemahnya perencanaan atas program, termasuk ketiadaan Career Plan
6. Tidak profesional dalam beramal
Ini adalah kali kedua saya bertemu dengan Ust. Bambang. Sebelumnya bertemu di Yogyakarta saat studi banding, satu-satunya hal yang paling tergiang di otak saya adalah mengenai bagaimana Idealisme itu harus dipaki fleksibel dalam dunia kerja yang nyata. Meskipun saya sendiri bukan seorang idealis.
4. Diskusi Pasca Kampus
Tantangan di Dunia Birokrasi adalah tema yang akan dibahas kali ini. Pada awalnya kami berharap Bapak Fasich selaku rektor Unair bisa mengisi materi, tetapi beliau kemudian mewakilkannya dan akhirnya tak jadi. Beruntungnya Bapah Imam selaku pembina PPSDMS bisa hadir dan menyampaikan materi tersebut. Beliau menjelaskan betapa ruwet, kalau tidak boleh dikatakan hancur, alur birokrasi di Indonesia sekarang. Banyak tantangannya seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Salah satu yang menyeruak pikiran saya adalah adanya tantangan birokrasi yang cukup ketat dalam tubuh dunia dosen dimana seharusny intelektualitas dijaga tenyata mengandung begitu banyak persaingan tidak sehat di dalamnya. Hal ini disampaikan langsung oleh Pak Imam yang merupakan dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga saat ini.
5. Dialog Tokoh
Materi yang disampaikan oleh mantan rector ke-4 ITS cukup menarik pada satu hal yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran bahwa sebagai pemimpin atau untuk menjadi pemimpin, kita tidak harus mengajukan diri. Menurut hemat saya, hal itu mungkin sesuai dengan keadaan Indonesia atau dunia di masa lalu. Namun berkaca pada hari ini dimana sistim demokrasi manjadi satu hal yang satu-satunya dianggap benar atau mereprsentasikan kebenaran, hal semacam itu amat sulit terjadi. Sekarang adalah jaman ketika kampanye menjadi komponen penting dalam pemilihan yang calonnya mengajukan diri sendiri. Satu hal yang patut dicontoh dari beliau adalh konsistensi dan keikhlasannya dalam menjalani pekerjaan atau beban yang diberikan pada dirinya.
Interpersonal skils. Interpersonal skils didefinisikan sebagai kemampuan berdamai dan berhubungan baik dengan diri sendiri. Dalam artian seorang pemimpin harus selesai dengan dirinya dulu sebelum dia berangkat untuk merngurus anak buahnya. Jika seorang pemimpin tidak memiliki kemampuan untuk mendamaikan dirinya sendiri, niscaya akan banyak kepentingan organisasi yang dia korbankan untuk kepentingannya sendiri. Dia harus dapat mengendalikan emosinya dan mengarahkannya untuk sesuatu yang baik karena bahkan sebuah amarah bisa menjadi sebuah alat untuk memotivasi anak buahnya. Dia harus bisa menyeimbangkan antara otak dan hatinya. Dua hal ini sangat penting sebagai aspek yang menentukan sebuah pengambilan keputusan yang akan berefek pada anak buahnya.
2. Training Jurnalistik Dan Studi Pustaka
Dalam kesempatan kali ini, kami membahas bagaimana tulisan dalam bahasa asing dibuat dan teknik menaggapi tulisan orang lain. Sebagia contohnya adalah tulisan P. Sapto sendiri yang berjudul Why Should be Afraid with Islamic Party?.tulisan ini dimuat untuk membalas tulisan yang bernada miring tentang eksistensi partai-partai Islam yang ada dalam pemilu Indonesia. Sedangkan studi pustaka membahas buku bertajuk “Model Kepemimpinan dalam Islam” Karya Mustofa M. Thalhah. Buku ini mencantumkan intisari serta rangkuman mengenai pemimpin dalam dunia Islam, misalnya : Mustafa as Sibai, Izzudin al Qassam, Muhammad bin Badis, Maulana Abul A’la al Maududi, Said badi’uzzaman an Nursi yang merupakan pemimpin-pemimpin hebat pada masanya.
3. KIK
Ikhsanul ’amal dan Etos Kerja dalam Perspektif Islam adealah tema KIK kali ini yang disampaikan oleh Ust. Bambang yang menjabat sebagai salah satu direktur di perusahaan Indosat. Materi yang sempat beliau sampaikan adalah mengenai sebab-sebab kemunduran umat (menurut al Ghazali) sebagai berikut:
1. Meninggalkan Sunatullah
2. Bodoh terhadap dunia
3. Merebaknya faham Jabbariyah
4. Kemunduran IPTEK dan pemikiran
5. Lemahnya perencanaan atas program, termasuk ketiadaan Career Plan
6. Tidak profesional dalam beramal
Ini adalah kali kedua saya bertemu dengan Ust. Bambang. Sebelumnya bertemu di Yogyakarta saat studi banding, satu-satunya hal yang paling tergiang di otak saya adalah mengenai bagaimana Idealisme itu harus dipaki fleksibel dalam dunia kerja yang nyata. Meskipun saya sendiri bukan seorang idealis.
4. Diskusi Pasca Kampus
Tantangan di Dunia Birokrasi adalah tema yang akan dibahas kali ini. Pada awalnya kami berharap Bapak Fasich selaku rektor Unair bisa mengisi materi, tetapi beliau kemudian mewakilkannya dan akhirnya tak jadi. Beruntungnya Bapah Imam selaku pembina PPSDMS bisa hadir dan menyampaikan materi tersebut. Beliau menjelaskan betapa ruwet, kalau tidak boleh dikatakan hancur, alur birokrasi di Indonesia sekarang. Banyak tantangannya seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Salah satu yang menyeruak pikiran saya adalah adanya tantangan birokrasi yang cukup ketat dalam tubuh dunia dosen dimana seharusny intelektualitas dijaga tenyata mengandung begitu banyak persaingan tidak sehat di dalamnya. Hal ini disampaikan langsung oleh Pak Imam yang merupakan dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga saat ini.
5. Dialog Tokoh
Materi yang disampaikan oleh mantan rector ke-4 ITS cukup menarik pada satu hal yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran bahwa sebagai pemimpin atau untuk menjadi pemimpin, kita tidak harus mengajukan diri. Menurut hemat saya, hal itu mungkin sesuai dengan keadaan Indonesia atau dunia di masa lalu. Namun berkaca pada hari ini dimana sistim demokrasi manjadi satu hal yang satu-satunya dianggap benar atau mereprsentasikan kebenaran, hal semacam itu amat sulit terjadi. Sekarang adalah jaman ketika kampanye menjadi komponen penting dalam pemilihan yang calonnya mengajukan diri sendiri. Satu hal yang patut dicontoh dari beliau adalh konsistensi dan keikhlasannya dalam menjalani pekerjaan atau beban yang diberikan pada dirinya.
Langganan:
Postingan (Atom)