Kamis, 30 April 2009

PAHLAWAN AMERIKA

Selama ini kita banyak mengenal beragam film dan komik Amerika yang menampilkan sosok pahlawan atau tokoh utamanya yang identik dengan kekuatan fisik yang besar seperti Jesse James, Captain America atau Spiderman. Kesemua tokoh tersebut memiliki kekuatan spesial terutama pada penonjolan aspek fisiknya. Dapat dikatakan bahwa konsep jagoan atau pahlawan Amerika lebih dititikberatkan pada sosok manusia yang kuat secara fisik daripada seorang dengan tingkat intelegensi yang tinggi. Jika ditelaah lebih jauh ternyata hal ini berkaitan erat dengan keadaan penduduk awal Amerika atau yang sering disebut sebagai American Frontiermans.

Pada awal pendudukan Amerika sebagai sebuah benua baru, para pendatang memilki tantangan tersendiri untuk menaklukan alam yang liar untuk membangun perdaban mereka yang baru. Dalam hal ini, mereka dituntut untuk independen atau mandiri sehingga dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri karena tentu saja prasarana dan sarana umum pada waktu itu belum tersedia untuk mendukung kehidupan mereka di tanah yang baru. Sebagai contoh, mereka harus membangun rumahnya sendiri, kaum ibu membuat baju untuk keluarganya dan tiap rumah menyediakan obat-obatan pribadi bagi rumah tangga mereka. Untuk menghadapi kondisi alam yang keras seperti ini sangat dibutuhkan keadaan prima pada kondisi fisik mereka. Agaknya nilai independen tersebut diterjemahkan menjadi kekuatan fisik yang nyata pada sosok ideal American Frontiermans karena pada perkembangan selanjutnya, mereka bukan hanya harus menghadapi alam yang kejam tetapi juga penduduk asli Amerika yaitu kaum Indian.

Sosok ideal American Frontiermans telah mengilhami begitu banyak masyarakat Amerika kontemporer sehingga konsep pahlawan atau jagoan Amerika lebih fokus pada kekutan fisik seperti tercermin dalam industri film mereka. Rambo, Terminator, dan Superman adalah contoh beberapa judul film Amerika yang menunjukkan kenyataan tersebut, meskipun dalam hal ini terdapat beberapa pengecualian yang sedikit masih mengandungkan nilai-nilai intelegensi. Namun tidak dapat dipungkiri lagi kenyataan bahwa sosok ideal American Frontiermans telah menjadi inspirasi bagi konsep pahlawan Amerika modern yang merambah pada nilai-nilai masyarakatnya saat ini. 

resume april

Training Pengembangan Diri

Sesi  TPD kali ini membahas tentang pentingnya kemampuan emotional intelligence atau tentang bagaimana kita bisa mengendalikan emosi kita baik dalam diri pribadi maupun dalam berhubungan dengan orang lain. Pemimpin kadang lupa bahwa ia sedang memimpin manusia yang merupakan mahluk unik yang tidak bisa disamaratakan pendekatannya. Sebab itu, pemimpin harus mengetahui bagaimana cara berkomunikasim dengan anak buahnya yang merupakan kumpulan manusia-manusia berbeda. Hal ini akan menjadi sangat sulit bila dilakukan dalam organisasi-organisasi yang tidak memiliki ikatan yang jelas ataupun kuat. Yang lebih menakutkan lagi adalah penggunanan yang salah dari sebuah emotional intelligence yang tidak tepat puls bisa membuat kita terperangkap menjadi dissonant leader yang merupakan penghancur bagi organisasinya sendiri. Dalam artian, sang pemimpin tidak bisa membina hubungan baik dengan anak buahnya atau masih belum selesai dengan masalah emosional pribadinya sendiri sehingga tidak dapat mewujudkan situasi yang kondusif dalam organisasi yang lebih akan memunculkan friksi dan perpecahan yang merugikan.

Kajian Islam Kontemporer

KIK kali ini membahas kelanjutam materi fiqh prioritas. Babnay adalah prioritas pemahaman daripada hapalan. Sebagai contoh dalam berbagai pengambilan keputusan pemerintah di negeri ini yang kebanyakan mengalihkan aspek pemahaman dalam tiap pelaksanaanya. Kebijakan penggusuran misalnay, masyarakat belum dipahamkan mengenai mesensi, tujuan dan sebab diambilnya keputusan tersebut sehingga mereka berontak bahkan solusi dari kebijakan itupun menjadi tidak jelas. Contoh yang lain yang mungkin bisa saya ambil adalah penetapan SPP baru Unairn 2009. Mahasiswa dalam hal ini tidak dilibatkan untuk menjadi paham tentang esensi, tujuan adan penyebab dari kebijakan ini. Bahkan sekali lagi solusinya pun belum jelas. Terang saja jikalau protes terus menerpa pihak universitas.

 

Training Jurnalistik & Studi Pustaka

Training jurnalistik kali ini membahas teknik publikasi yang merupakan satu instrument penting dalam sebuah karya yang sebnarnya memilki fungsi sebagai sarana publikasinya sendiri. Seorang penulis harus bisa menjalin hubungan yang baik dengan pihak media atau penerbit agar bisa memperluas jaringan pemasaran karya-karyanya. Sedang dalam Studi Pustaka, kita bisa melihat salah satu contoh klasik buku kepemimpinan zaman dahulu ciptaan Dale Carnegie yang disebut-sebut sebagai pionir di bidang kepelatihan kepemimpinan. Dalam teorinya, Dale Carnegie mengatakan bahwa bagainan seorang pemimpin bisa menghimpunanak buahnya dalam sebuah hubungan yang baik akan memiliki korelasi yang positif terhadap organisasi yang dipimpinnya karena semakin nyaman orang berada dio suatu tempat, semakin besar kemungkin dia bisa mengeluarkan potensinay menjadi wujud hasiol kerja yang nyata.

 

Rabu, 01 April 2009

resume bulan maret

1. KIK
Dalam KIK kali ini tetap setia membahas buku fiqih prioritas karya Ustadz Yusuf Qaradhawi. Tema kajian hari itu adalah prioritas ilmu di atas amal. Artinya kita diharapkan memahami dulu ilmu tentang sesuatu yang harus atau akan kita kerjakan sehingga tidak terjadi keslahan yang mungkin sekali berakibat fatal bagi yang lain. Pentingnya pemahaman terletak pada bagaimana tugas itu akan dilakukan. Misalkan ketika seseorang akan menjadi pemimpin, dia harus memahami ilmu sebagai seorang pemimpin sehingga dia dapat memimpin dengan benar dan baik nantinya. Bayangkan saja jika seorang pemimpin tak bias memimpin, hancurlah organisasinya. Di sinilah letak urgensi ilmu daripada amal.
2. TPD
TPD bulan ini khusus regional IV Surabaya tetap membahas materi Leadership. Dalam resume sebelumnya saya sudah menjelaskan mengenai apa yang dimaksud five level leadership yang setelah dijelaskan oleh Pak Arief justru memberikan sebuah imaji yang berbeda bagi saya yang sedikit mempraktikannya dalam laboratorium sebenarnya. Bagi saya, bentuk yang tepat untuk five level leadership ini bukanlah lima tingkat yang semcam pyramid tetapi lebih pada satu kategori Leader di atas sebagai puncak dan empat criteria di bawahnya sebagai pondasi. Sebabnya terutama adalah empat criteria tersebut sebagai aspek pembangun dan alat dari level Leader. Kenapa disebut aspek pembangun ialah karena keempat hal tersebut bias menjadi gerbang bagi seseorang yang ingin memposisikan dirinya dalam sebuah laboratorium kepemimpinan yang nyata. Dikatakan sebagai alat karena sekalipun seseorang telah berada dalam posis leader , dia tetap membutuhkan keempat hal ini untuk menunjang kepemimpinannya karena tiap follower membutuhkan pendekatan yan berbeda-beda. Dalam pandangan saya, keempat criteria bawah tersebut adalah alat ynag harus digunakan untuk mencapai tujuan yaitu mencapai sebuah titik puncak di atasnya sebagai leader.
3. TJ dan SP
Dalam TJ kali ini dibahas bab gaya kepenulisan yang merupakan sesuatu instrument yang penting karena membedakan seorang penulis dengan lainnya. Gaya adalah sesuatu yang khas yang tidak bisa ditiru atau dipelajari. Yang bisa dilakukan hanyalah mempelajari gaya orang lain untuk menambah khasanah bagi gaya kepenulisan kita sendiri.
Sedang dalam SP dibahas bab kepemimpinan yang tak jauh berbeda dari sesi TPD. Dibahas bagaimana pengaruh dapat mendefinisikan kepemimpinan dengan begitu lancer.
4. DT
Dalam DT kita dijelaskan tentang sejarah sains umat dimana kita pernah mengalami masa kejayan. Namun sayangnya saat ini kita berada dalam masa kesuraman. Secara sudut pandang filsafat dapat dikatakan kemajuan sains diawali dengan kemajuan ideology dan pemikiran. Hal inilah yang belum dimiliki umat ini.
5. DPK
Sesi kali ini kami dihadirkan bagaiman prospek sebagai anggota legislatrif.
Begitu banyak tantangan yang harus dihadapi dean sudah merupakan tugas seorang pemimpin melaksanakan tanggung jawab ini. Bukan saja dalam ranah eksekutif.