Waktu adalah sebuah unsur kehidupan yang merupakan kehidupan itu sendiri. Sebuah pembeda antara detik satu dengan lainnya yang tidak akan pernah kembali dalam wujudnya yang sama. Sumber daya yang tidak bisa tergantikan harga dan eksistensinya. Manusia-manusia barat pun mengatakan bahwa “time is money”, tapi dalam hemat penulis waktu bukan sekadar uang. Waktu adalah lembaran kehidupan yang disusun atas tinta-tinta yang tidak bisa dihapus dengan konsekuensi apapun. Sebagai seseorang yang menyebut dirinya sebagai praktisi kampus (walau sebenarnya julukan ini pun masih harus dipertanyakan keabsahannya), penulis sering mengamati betapa begitu banyak mahasiswa yang terpanggil sebagai aktivis mahasiswa memiliki pola manajemen waktu yang buruk. Dengan begitu, penulis terpanggil untuk menulis sedikit obat penyadar diri sebagai suplemen pengingat untuk tidak meniru mereka yang kehilangan begitu banyak waktunya hanya karena penerapan kurang tepat atas menajemen pribadinya. Di sinilah konstruksi menajemen waktu itu akan diredifinisi lagi secara objektif oleh penulis yang senantiasa subjektif.
Hal pertama yang patut dilakukan adalah menemukan definisi dari kata “manajemen”, tetapi dikarenakan penulis tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk melukiskan makna “manajemen”, maka kata redefinisi dalam paragraph sebelumnya akan diartikan sebagai upaya pencapaian ulang pengertian manjemen dalam kata yang dimaksudkan sebagai “tercapainya tujuan yang melebihi puncak dengan pengorbanan yang kurang dari sepantasnya”. Hendaknya pembaca bisa menilai sendiri makna kalimat tersebut karena sekali lagi manajemen adalah sesuatu yang memiliki suatu kemiripan dengan kepemimpinan bahwa hal ini merupakan pembelajaran praktis bukan pemahaman teoritis.
Redefinisi yang kedua tentu saja tentang waktu yang sebelumnya sudah dibahas sekelumitnya pada paragraf awal. Waktu bagi penulis adalah sebuah nama lain atas kehidupan yang membuat hidup ini menemui hakikatnya karena nilai sebuah kehidupan ditentukan oleh nilai-nilai yang terbentuk oleh waktu dimana kehidupan itu terjadi. Dalam paradigma manajemen penulis, waktu merupakan sumber daya yang paling utama. Sebab semua kegiatan dan usaha memerlukan proses, maka secara apriori waktu dalam tiap jam, menit dan detiknya telah menjadi harga mati yang tidak sanggup terhargai oleh resources pengganti.
“Yesterday is a history, tomorrow is a mistery, but today is a gift”
Master Oggway, Kungfu Panda
Berangkat dari salah satu falsafah China yang dikutip dari salah satu film animasi terbaik saat ini, penulis mencoba mengklasifikasikan manajemen waktu menjadi tiga kriteria berdasarkan pembagian periodiknya. Pembagian seperti ini tentulah sangat diperlukan sebagai langkah awal manajemen sehingga pembaca lebih mudah memahami pemikiran penulis dalam essai yang perlu penelahaan lebih jauh ini.
Layaknya perjalanan panjang mengelilingi dunia, pembagian manajemen ini pun membutuhkan sebuah pelabuhan perdana yaitu manajemen masa lalu. Masa lalu senantiasa menjadi momok yang bisa menjatuhkan tiap usaha manusia paling tegar dan membangkitkan bahkan manusia yang paling tidak cakap sekalipun. Bagaiman seharusnya manusia menaggapi masa lalunya baik hal itu sebuah kejayaan maupun kemerosotan adalah menyadarinya sebagai sebuah sejarah yang terdapat pengajaran di dalamnya. Saat pengalaman dikatakan senagai guru yang paling baik, demikian pula ketika pengalaman itu memberikan kegagalan maka yang terbentuk adakah ketakutan yang terdalam untuk bangkit. Sebaliknya ketika pengalaman itu adalah keberhasilan seringkali membutakan kita pada perubahan. Cara yang paling aman tentu saja bersikap netral pada pengalaman ini dan memetik pembelajaran tentangnya.
Babak selanjutnya adalah manajemen masa depan. Masa depan bukanlah suatu hal yang bisa diramal dengan kemungkinan-kemungkinan, tetapi seharusnya dipandang sebagai hasil dari masa lalu dan saat ini. Perencanaan dan pemanfaatan peluang yang ada merupakan inti dari manajemen masa ini. Sebab masa yang akan datang selalu menjadi pertanyaan yang jawabnya selalu datang jika dan hanya jika waktunya telah tiba. Masa depan dalam manajemen dijadikan aset untuk meraih cita, meskipun kadang masa depan itu tidak dapat diandalkan keberadaannya. Setiap orang yang mencoba mengaplikasikan prinsip-prinsip manjemen ini patut membuat visi ke depan yang merepresenyasikan tujuan yang dia miliki untuk mengolah potensi waktu masa selanjutnya.yang perlu diingat bahwa masa depan ini adalah sebuah puzzle yang bagian per bagiannya disusun saat ini, dulu dan nanti. Selamanya masa depan adalah teka-teki yang isiannya dipandu oleh manajemen waktu pembagian kedua.
Manajemen ketiga yang paling fundamentalis sifatnya tentulah manajemen hari ini merupakan masa lalu dan tak perlu risaukan masa depan, yang penting adalah bagaimana hari ini akan berputar sebagai hasil yang baik atas perencanaan yang lalu dan persaiapan yang beanar bagi masa depan. Mengapa manajemen hari ini menjadi dasar bagi prioritas manajemen yang lain adalah karena prinsip waktu yang tidak pernah membalikkan badannya kembali.Saat-saat yang kita miliki sekarang menjadi terlalu berharga tanpa pemanfaatan yang mengagumkan berlandaskan asas efektif dan efisien.
Sebagai penutup, penulis hanya ingin menulis sebait simpulan dari segala keterangan yang ada sebelumnya sebagai sarana refleksi pembaca sekalian.
“Saat bulan merona, saatnya burung pulang ke sarang emasnya
Sedang bintang menari memberikan petunjuk esok pagi
Dan awan kelam malam menjuntai kesepian meyimpan memoar yang terampas
Biarkan dia melaju seperti senandung lagu menyambut rindu pesona detik kini”
Pada akhirnya manajemen waktu sesungguhnya hanyalah alat yang digunakan untuk mengoptimalkan pencapaian kemanusiaan terhadap salah satu sdmber dayanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar