“Pemimpin itu tidak ditunjuk atau dibentuk. Pemimpin itu lahir dan tumbuh bersama rakyatnya….” Soekarno
Ketika sore ini saya berbicara dengan teman searama yang kebetulan ketua asrama kami yang baru, teringat kalimat di atas. Salah satu kalimat yang paling saya ingat dari wawancara Ir. Soekarno dengan seorang wartawan wanita asal AS, Cindy Adam, menjelang jatuhnya demokrasi terpimpin. Sang wartawan bertanya pada sosok kharismatik ini tentang siapa penggantinya, figur flamboyan ini menjawab dengan tenang dengan kalimat tersebut.
Dalam relevansinya dengan program pembinaan PPSDMS, sebuah beasiswa berasrama yang bertujuan menciptakan pemimpin masa depan bangsa ini, sesuai dengan jargon yang di usungnya “creates future leader” tentulah diharapkan output yang dihasilkan sesuai dengan ekspetasi awal sehingga program ini dapat dikatakan berhasil. Tetapi bila ditilik lebih jauh pada tiap program pembinaanya, mulai dari Kajian Islam Kontemporer, Kajian Islam Pekanan, Tahsin, Training Jurnalistik, Taekwondo dsb, segmentasinya justru bukanlah mainstream dari penciptaan kepemimpinan itu sendiri melainkan pada penguasaan wacana dan improvisasi wawasan yang nantinya akan membantu peserta dalam mengembangkan pola pikir yang lebih global dan aspek fundamentalis Islam yang memang merupakan visi terbentuknya program ini. Lain lagi dengan Training Pengembangan Diri yang bertujuan pada dasarnya untuk membentuk pribadi peserta dalam perkembangan mereka selanjutnya. Meskipun begitu, menurut saya, program ini hanyalah pendukung dari pengembangan kepemimpinan peserta, sekali lagi bukanlah tonggak sebenarnya yang secara langsung membentuk sebuah kepemimpinan karena memang kepemimpinan itu tidak bisa dibentuk, dlam hal ini saya setuju dengan perkataan presiden pertama kita. Lalu pertanyaannya adalah dimana sebetulnya jiwa kepemimpinan itu akan lahir.
Bila kita mencemati kalimat kedua dari quote di awal tadi, “Pemimpin itu lahir dan tumbuh bersama rakyatnya….” Jawabannya sudah bisa kita pastikan bahwa kepemimpinan itu dapat dipupuk justru melalui praktik dalam sebuah laboratorium sosial kehidupan yang lebih suka saya sebut masyarakat. Dalam tema ini adalah rakyat yang harus kita perjuangkan nantinya. Asrama adalah program riil sesungguhnya yang dapat menjadi periode awal dari laboratorium kepemimpinan ini. Meskipun di luar sana tentulah setiap peserta memiliki laboratorium kepemimpinannya masing-masing yang jika dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya akan melahirkan mereka sebagai pemimpin yang sebenar-benarnya pemimpin karena periode lanjut dari pembinaan singkat selama dua tahun ini adalah sebuat tanggung jawab besar di luar sana yang telah kita tanggung sejak kita hirup udara untuk pertama kalinya, sebuah bangsa bernama Indonesia.
Asrama adalah laboratorium sosial yang dimiliki bersama. Di sinilah para peserta dituntut untuk tumbuh sebagai pemimpin sekaligus rakyatnya dalam sebuah masyarakat asrama dan segala realita kehidupan yang menyertainya. Peserta didorong untuk bicara sekaligus mendengar, bertindak sekaligus memberi komando. Lebih jauh lagi, bila kita mengerucutkan pengamatan ini pada asrama regional IV Surabaya, sebuah asrama yang notabene dihuni orang-orang yang paling majemuk diantara yang lain dan keadaan fisik asrama yang mungkin tersederhana pula, tersaji sebuah kehidupan bervariasi pesertanya yang secara subjektif berdasar pengamatan saya, merupakan manusia-manusia yang secara unik belajar kepemimpinan dengan cara mereka sendiri yang kebetulan sedikit out of the box dari garis besar yang sudah dimapankan. Bisa dikatakan di sini adalah pusat dari para outlayer yang cenderung memberontak pada sistem yang ada. Adapun demikian, saya temukan sesuatu aneh yang melekat pada kelompok itu, bukan semuanya tentu, sebuah bibit kepemimpinan yang telah tumbuh dalam diri mereka melebihi yang lain. Semangat yang sama yang selalu saya jumpai pada kalimat proklamator kita sebelumnya bahwa kepemimpinan bukanlah sesuatu yang kita bentuk ataupun yang diilhami sejak lahir, melainkan proses pendewasaan yang kita alami dan tumbuh seiring dan bersama dengan orang-orang yang kita pimpin. Bila ingin menjadi pemimpin yang baik maka lihat, dengarkan dan rasakan serta pelajari laboratorium kepemimpinan yang kita miliki, semua pengetahuan dan teori hanyalah pendukung sedang pembelajaran yang sebenarnya adalah kenyataan yang senantiasa kita hadapi. Bagi saya, kehidupan asrama adalah program pembinaan kepemimpinan yang eksistensinya melebihi program-program lainnya. Walaupun sesungguhnya esensi laboratorium kepemimpinan ini akan kita resapi kesejatiannya di luar asrama dan semua atributnya saat ini dan nanti. Satu yang saya pahami, manusia tidak boleh terbelenggu oleh nilai-nilai yang mereka ciptakan sendiri. Human, all to human*.
*) Nietzsche
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar