“Di bawah senjakala biru yang mewarnai tiap derai-derai atap kelabu Universitas Airlangga, sekiranya Laboratorium Kepemimpinan itu coba aku wujudkan.” Itulah sekelumit kata-kata yang pernah terbesit sehabis saya menulis artikel bulan lalu. Jika dalam artikel tersebut saya lebih menekankan pada fakta bahwa kepemimpinan itu adalah sesuatu yang tumbuh atau ditumbuhkan melalui sebuah laboratorium kepemimpinan. Kali ini, yang ingin saya kupas adalah tentang bagaimana laboratorium itu dibangun.
Bagaimana kita dapat mempelajari sebuah ilmu yang cenderung pada praktik bila sarana untuk praktik itu saja tidak ada. Dari dasar itulah, laboratorium kepemimpina harus ada dan dimilki oleh mereka yang menginginkan menjadi bagian dari penerima tampuk kepemimpinan bangsa ini nantinya. Jika leadership dibangun di atas kepercayaan dan respek, maka kepercayaan dan respek itulah yang harus kita rebut terlebih dahulu. Mengapa harus direbut? Tentu saja karena masyarakat tidak akan serta merta memperikan kepercayaan dan penghormatan pada mereka yang tidak berkompeten. Mungkin inilah salah satu sebab mengapa seleksi masuk asrama PPSDMS tergolong berat. Sebuah perubahan biasanya diawali hanya oleh segelintir manusia saja. Manusia yang dibutuhkan di sini adalah manusia yang mau dan mampu merubah dirinya sebelum merubah orang lain.
Membangun sebuah laboratorium kepemimpinan dalam sebuah organisasi tidaklah sama artinya dengan menjadi ketua dalam organisasi tersebut. Sekali lagi yang harus ditekankan adalah kesadaran bahwa pemimpin itu bukanlah jabatan formal melainkan sebuah pilihan yang harus diambil dari sudut apapun posisi struktural kita yang nantinya akan dilegitimasi oleh kepercayaan dan respek anggota. Bagaimanapun juga baik kepala maupun ketua bahkan pemimpin sekalipun tetaplah merupakan bagian dari sebuah tim organisasi tersebut.
Satu hal yang telah saya pelajari selama ini bahwa untuk membangun sebuah labolatorium kepemimpinan itu kita seharusnya sadar pada makna dalam kalimat ini : “ kita harus menerima secara sempurna bahwa orang lain sama halnya kita adalah tidak sempurna dan perubahan itu pun tinggal menunggu waktunya.”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar