Selasa, 06 Oktober 2009

THE ROLE OF CROSS CULTURAL UNDERSTANDING TO BUILD A BETTER RELATIONSHIP AMONG THE PEOPLE OF WORLD

Human are unique and complex creatures. There isn’t one in the world who totally similar to each other. The differences among us are the factor which often bring the world into conflicts. As the close relationship between men and their cultures, one way to solve the problem of world violence and make dream of peace comes true is establishing a cross cultural understanding education in every country’s education. Cross cultural understanding is the subject that can make us learn the others in order to build a better relationship and a peace world as well.
In my country, Indonesia, we’ve many differences in our societies and cultures because we are the largest archipelago country in the world with various races, religions, ethnics and groups. It’s always be a hard thing to bring the peace in our diverse nation, but we can. It refers to a cross cultural understanding we attempt to accomplish in our pluralism, though any conflict still happens in past till today. But we believe that we have walked in the true path. Everything needs process to end in a great result, we are still in the way to get it. In fact we’ve built a foundation of the culture of peace itself and it has made great changes in our relationship as a nation from long years ago when we recognized as nation and today realities.
I believe in the importance of cross cultural understanding towards the social relationship because I’ve found the evidences not only in my country but also in a country that everyone knows, United States. This semester I take an American Studies-class, therefore I’m sure to say that we absolutely need a course of cross cultural understanding in each school rooms in whole part of this world. US shows that in their pluralistic society, they can establish a great unity and understanding through the different societies by a consciously concern in the matter of cross cultural understanding subject. My country and US perhaps can’t represent the world in a whole, but we’ve launched the sample of the use of cross cultural understanding to make a better world in peace and in broadly explanation, we have made it more than a half.
Based on my experiences, the medias of cross cultural understanding can use the tools of the internet and the worldwide web social networks that connect all the people in all over the world, such as www.myspace.com, www.livemocha.com or www.facebook.com. Anyone joins in that network can share information and knowledges about their own cultures and society. Thus, they’ve already done a cross cultural understanding indirectly without they have expected before. This knowledge sharing will improve their understanding about the character of the people outside their country and by the internet the progress will be borderless. Actually the information of the events occurring in each country can give a reference in the way people get an introducing of cross cultural understanding because mankind can’t be separated from both of the historical and cultural situations surrounding themselves. For instance, I can be surprised by the fact that some of my friends in US and Iran hate their president, Obama and Ahmadinejad. As far as I know from the media, Ahmadinejad is one of the most bravery president in the world but my friend said that most of Iranian are being afraid because his act that probably gives back the trauma of war into the Iranian. In other side, I thought the election of Obama will be accepted by the Americans, but one of my chat friend said that it isn’t right because he is weak in foreign policy. There are many samples else that I can’t write in this essay like the image of China. In these network on internet, we can share much knowledge about the information of the world cultures and conditions in other countries that will encourage us to learn what we called a cross cultural understanding.
In international relationship or in any relationship else, we may face any differences that against us to be more acceptable with others. Because we are human being who everyone has attitude and behavior based on their own cultures, thus the cross cultural understanding acknowledgements are very vital if we want to speak in a larger spaces like across the nations in the world. I imagine if in each part of our planet, every country make a cross cultural understanding as a compulsory course in all school they have, the world is surely going to be a better place where people can live in peace. After all a research on the importance of cross cultural understanding education is completely necessary and we will save our self and our next generation.

Sabtu, 30 Mei 2009

KEBEBASAN KEKUASAAN PERS AMERIKA

Media atau pers di Amerika telah menjadi suatu bentuk kekuasaan yang baru yang bahkan sanggup mengendalikan alur roda pemerintahan negeri tersebut. Agaknya pernyataan Foucault bahwa pengetahuan merupakan bagian dari kekuasaan begitu menemukan kebenarannya pada realita media di Amerika. Sebagai salah satu alat untuk membentuk pengetahuan publik, media sangatlah efektif efeknya pada pemerintahan amerika. Fakta bahwa selain opini publik terbentuk salah satunya oleh kuasa media membuat pemerintah Amerika berusaha mengendalikan media di atas prinsip kebebasan persnya atau yang akan terjadi adalah sebaliknya, pemerintahlah yang dikendalikan media. Kita mungkin telah tahu lagu American Idiot karya grup music terkenal Amerika Green Day yang melukiskan betapa besar pengaruh media di Negara itu. Beberapa ketidakstabilan politik dalam sejarah Amerika pun menjadi bukti sahih dari lagu tersebut, sebagai contoh adalah kasus Watergate presiden Nixon yang membuatnya mengundurkan diri, lalu skandal antara Bill Clinton dan Monica Lewinsky yang pada akhirnya menjadi pemicu buruknya citra presiden tersebut di mata Amerika dan dunia, dan yang terakhir adalah foto-foto mengenaskan tentang keaadaan tawanan perang Irak yang menyebabkan semakin banyak penduduk amerika yang kontra atau menentang perang tersebut. Semua menjadi bukti betapa besar pengaruh media di Amerika, entah itu berefek baik atau buruk pada pemerintahannya.
Kebebasan pers yang selama ini diagung-agungkan oleh kalangan pemerintah Amerika sendiri sepertinya harus mulai dikaji ulang. Meskipun di sana sudah terdapat batasan-batasan dalam perundang-undangan Amerika, tetapi tetap saja kebebasan media masih sulit dibendung arusnya dan telah menjadi salah satu bentuk alat kekusaan baru. Apalagi dengan adanya berbagai bentuk media yang beragam dari media cetak, televisi, radio sampai internet, masyarakat lebih mudah mengakses berita dan teknologi informasi yang berkembang pesat membuat arus komunikasi dan informasi dapat berlangsung dengan begitu cepat antar semua titik di belahan dunia manapun. Seharusnya pemerintah Amerika dapat memperhitungkan hal ini sebelumnya. Memang media juga bias dijadikan alat kekuasaan yang efektif untuk mendukung kebijakan pemerintah Amerika, tetapi mereka juga harus sadar akan bahayanya. Media adalah salah satu alat kekuasaan yang sulit dikontrol oleh pemerintah dari Negara apapaun kecuali jika ada larangan kebebasn pers pada Negara tersebut. Masalahnya Amerika adalah Negara yang terkenal menjunjung tinggi demokrasi dan kebebasa, tidak heran jika kebebasan pers pun menjadi sesuatu yang mutlak di negeri Liberty ini. Bahwa kebebasan media pun memiliki akibat yang baik bagi sehatnya pemerintahan sebuah Negara memang benar, namun sebagai Negara dengan pemerintahan yang begitu dikuasai media seperti itu, Amerika harus memilih antara mepertahankan citranya sebagai symbol demokrasi dunia dengan konsep kebebasan persnya atau mulai memberi batasann yang lebih keras pada media untuk mengurangi pengaruhnya pada masyarakat dan lebih jauh lagi untuk mengendalikan alat kekuasaan ini.

Resume Bulan Mei

1. TPD
Interpersonal skils. Interpersonal skils didefinisikan sebagai kemampuan berdamai dan berhubungan baik dengan diri sendiri. Dalam artian seorang pemimpin harus selesai dengan dirinya dulu sebelum dia berangkat untuk merngurus anak buahnya. Jika seorang pemimpin tidak memiliki kemampuan untuk mendamaikan dirinya sendiri, niscaya akan banyak kepentingan organisasi yang dia korbankan untuk kepentingannya sendiri. Dia harus dapat mengendalikan emosinya dan mengarahkannya untuk sesuatu yang baik karena bahkan sebuah amarah bisa menjadi sebuah alat untuk memotivasi anak buahnya. Dia harus bisa menyeimbangkan antara otak dan hatinya. Dua hal ini sangat penting sebagai aspek yang menentukan sebuah pengambilan keputusan yang akan berefek pada anak buahnya.
2. Training Jurnalistik Dan Studi Pustaka
Dalam kesempatan kali ini, kami membahas bagaimana tulisan dalam bahasa asing dibuat dan teknik menaggapi tulisan orang lain. Sebagia contohnya adalah tulisan P. Sapto sendiri yang berjudul Why Should be Afraid with Islamic Party?.tulisan ini dimuat untuk membalas tulisan yang bernada miring tentang eksistensi partai-partai Islam yang ada dalam pemilu Indonesia. Sedangkan studi pustaka membahas buku bertajuk “Model Kepemimpinan dalam Islam” Karya Mustofa M. Thalhah. Buku ini mencantumkan intisari serta rangkuman mengenai pemimpin dalam dunia Islam, misalnya : Mustafa as Sibai, Izzudin al Qassam, Muhammad bin Badis, Maulana Abul A’la al Maududi, Said badi’uzzaman an Nursi yang merupakan pemimpin-pemimpin hebat pada masanya.
3. KIK
Ikhsanul ’amal dan Etos Kerja dalam Perspektif Islam adealah tema KIK kali ini yang disampaikan oleh Ust. Bambang yang menjabat sebagai salah satu direktur di perusahaan Indosat. Materi yang sempat beliau sampaikan adalah mengenai sebab-sebab kemunduran umat (menurut al Ghazali) sebagai berikut:
1. Meninggalkan Sunatullah
2. Bodoh terhadap dunia
3. Merebaknya faham Jabbariyah
4. Kemunduran IPTEK dan pemikiran
5. Lemahnya perencanaan atas program, termasuk ketiadaan Career Plan
6. Tidak profesional dalam beramal
Ini adalah kali kedua saya bertemu dengan Ust. Bambang. Sebelumnya bertemu di Yogyakarta saat studi banding, satu-satunya hal yang paling tergiang di otak saya adalah mengenai bagaimana Idealisme itu harus dipaki fleksibel dalam dunia kerja yang nyata. Meskipun saya sendiri bukan seorang idealis.
4. Diskusi Pasca Kampus
Tantangan di Dunia Birokrasi adalah tema yang akan dibahas kali ini. Pada awalnya kami berharap Bapak Fasich selaku rektor Unair bisa mengisi materi, tetapi beliau kemudian mewakilkannya dan akhirnya tak jadi. Beruntungnya Bapah Imam selaku pembina PPSDMS bisa hadir dan menyampaikan materi tersebut. Beliau menjelaskan betapa ruwet, kalau tidak boleh dikatakan hancur, alur birokrasi di Indonesia sekarang. Banyak tantangannya seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Salah satu yang menyeruak pikiran saya adalah adanya tantangan birokrasi yang cukup ketat dalam tubuh dunia dosen dimana seharusny intelektualitas dijaga tenyata mengandung begitu banyak persaingan tidak sehat di dalamnya. Hal ini disampaikan langsung oleh Pak Imam yang merupakan dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga saat ini.
5. Dialog Tokoh
Materi yang disampaikan oleh mantan rector ke-4 ITS cukup menarik pada satu hal yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran bahwa sebagai pemimpin atau untuk menjadi pemimpin, kita tidak harus mengajukan diri. Menurut hemat saya, hal itu mungkin sesuai dengan keadaan Indonesia atau dunia di masa lalu. Namun berkaca pada hari ini dimana sistim demokrasi manjadi satu hal yang satu-satunya dianggap benar atau mereprsentasikan kebenaran, hal semacam itu amat sulit terjadi. Sekarang adalah jaman ketika kampanye menjadi komponen penting dalam pemilihan yang calonnya mengajukan diri sendiri. Satu hal yang patut dicontoh dari beliau adalh konsistensi dan keikhlasannya dalam menjalani pekerjaan atau beban yang diberikan pada dirinya.

Kamis, 30 April 2009

PAHLAWAN AMERIKA

Selama ini kita banyak mengenal beragam film dan komik Amerika yang menampilkan sosok pahlawan atau tokoh utamanya yang identik dengan kekuatan fisik yang besar seperti Jesse James, Captain America atau Spiderman. Kesemua tokoh tersebut memiliki kekuatan spesial terutama pada penonjolan aspek fisiknya. Dapat dikatakan bahwa konsep jagoan atau pahlawan Amerika lebih dititikberatkan pada sosok manusia yang kuat secara fisik daripada seorang dengan tingkat intelegensi yang tinggi. Jika ditelaah lebih jauh ternyata hal ini berkaitan erat dengan keadaan penduduk awal Amerika atau yang sering disebut sebagai American Frontiermans.

Pada awal pendudukan Amerika sebagai sebuah benua baru, para pendatang memilki tantangan tersendiri untuk menaklukan alam yang liar untuk membangun perdaban mereka yang baru. Dalam hal ini, mereka dituntut untuk independen atau mandiri sehingga dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri karena tentu saja prasarana dan sarana umum pada waktu itu belum tersedia untuk mendukung kehidupan mereka di tanah yang baru. Sebagai contoh, mereka harus membangun rumahnya sendiri, kaum ibu membuat baju untuk keluarganya dan tiap rumah menyediakan obat-obatan pribadi bagi rumah tangga mereka. Untuk menghadapi kondisi alam yang keras seperti ini sangat dibutuhkan keadaan prima pada kondisi fisik mereka. Agaknya nilai independen tersebut diterjemahkan menjadi kekuatan fisik yang nyata pada sosok ideal American Frontiermans karena pada perkembangan selanjutnya, mereka bukan hanya harus menghadapi alam yang kejam tetapi juga penduduk asli Amerika yaitu kaum Indian.

Sosok ideal American Frontiermans telah mengilhami begitu banyak masyarakat Amerika kontemporer sehingga konsep pahlawan atau jagoan Amerika lebih fokus pada kekutan fisik seperti tercermin dalam industri film mereka. Rambo, Terminator, dan Superman adalah contoh beberapa judul film Amerika yang menunjukkan kenyataan tersebut, meskipun dalam hal ini terdapat beberapa pengecualian yang sedikit masih mengandungkan nilai-nilai intelegensi. Namun tidak dapat dipungkiri lagi kenyataan bahwa sosok ideal American Frontiermans telah menjadi inspirasi bagi konsep pahlawan Amerika modern yang merambah pada nilai-nilai masyarakatnya saat ini. 

resume april

Training Pengembangan Diri

Sesi  TPD kali ini membahas tentang pentingnya kemampuan emotional intelligence atau tentang bagaimana kita bisa mengendalikan emosi kita baik dalam diri pribadi maupun dalam berhubungan dengan orang lain. Pemimpin kadang lupa bahwa ia sedang memimpin manusia yang merupakan mahluk unik yang tidak bisa disamaratakan pendekatannya. Sebab itu, pemimpin harus mengetahui bagaimana cara berkomunikasim dengan anak buahnya yang merupakan kumpulan manusia-manusia berbeda. Hal ini akan menjadi sangat sulit bila dilakukan dalam organisasi-organisasi yang tidak memiliki ikatan yang jelas ataupun kuat. Yang lebih menakutkan lagi adalah penggunanan yang salah dari sebuah emotional intelligence yang tidak tepat puls bisa membuat kita terperangkap menjadi dissonant leader yang merupakan penghancur bagi organisasinya sendiri. Dalam artian, sang pemimpin tidak bisa membina hubungan baik dengan anak buahnya atau masih belum selesai dengan masalah emosional pribadinya sendiri sehingga tidak dapat mewujudkan situasi yang kondusif dalam organisasi yang lebih akan memunculkan friksi dan perpecahan yang merugikan.

Kajian Islam Kontemporer

KIK kali ini membahas kelanjutam materi fiqh prioritas. Babnay adalah prioritas pemahaman daripada hapalan. Sebagai contoh dalam berbagai pengambilan keputusan pemerintah di negeri ini yang kebanyakan mengalihkan aspek pemahaman dalam tiap pelaksanaanya. Kebijakan penggusuran misalnay, masyarakat belum dipahamkan mengenai mesensi, tujuan dan sebab diambilnya keputusan tersebut sehingga mereka berontak bahkan solusi dari kebijakan itupun menjadi tidak jelas. Contoh yang lain yang mungkin bisa saya ambil adalah penetapan SPP baru Unairn 2009. Mahasiswa dalam hal ini tidak dilibatkan untuk menjadi paham tentang esensi, tujuan adan penyebab dari kebijakan ini. Bahkan sekali lagi solusinya pun belum jelas. Terang saja jikalau protes terus menerpa pihak universitas.

 

Training Jurnalistik & Studi Pustaka

Training jurnalistik kali ini membahas teknik publikasi yang merupakan satu instrument penting dalam sebuah karya yang sebnarnya memilki fungsi sebagai sarana publikasinya sendiri. Seorang penulis harus bisa menjalin hubungan yang baik dengan pihak media atau penerbit agar bisa memperluas jaringan pemasaran karya-karyanya. Sedang dalam Studi Pustaka, kita bisa melihat salah satu contoh klasik buku kepemimpinan zaman dahulu ciptaan Dale Carnegie yang disebut-sebut sebagai pionir di bidang kepelatihan kepemimpinan. Dalam teorinya, Dale Carnegie mengatakan bahwa bagainan seorang pemimpin bisa menghimpunanak buahnya dalam sebuah hubungan yang baik akan memiliki korelasi yang positif terhadap organisasi yang dipimpinnya karena semakin nyaman orang berada dio suatu tempat, semakin besar kemungkin dia bisa mengeluarkan potensinay menjadi wujud hasiol kerja yang nyata.

 

Rabu, 01 April 2009

resume bulan maret

1. KIK
Dalam KIK kali ini tetap setia membahas buku fiqih prioritas karya Ustadz Yusuf Qaradhawi. Tema kajian hari itu adalah prioritas ilmu di atas amal. Artinya kita diharapkan memahami dulu ilmu tentang sesuatu yang harus atau akan kita kerjakan sehingga tidak terjadi keslahan yang mungkin sekali berakibat fatal bagi yang lain. Pentingnya pemahaman terletak pada bagaimana tugas itu akan dilakukan. Misalkan ketika seseorang akan menjadi pemimpin, dia harus memahami ilmu sebagai seorang pemimpin sehingga dia dapat memimpin dengan benar dan baik nantinya. Bayangkan saja jika seorang pemimpin tak bias memimpin, hancurlah organisasinya. Di sinilah letak urgensi ilmu daripada amal.
2. TPD
TPD bulan ini khusus regional IV Surabaya tetap membahas materi Leadership. Dalam resume sebelumnya saya sudah menjelaskan mengenai apa yang dimaksud five level leadership yang setelah dijelaskan oleh Pak Arief justru memberikan sebuah imaji yang berbeda bagi saya yang sedikit mempraktikannya dalam laboratorium sebenarnya. Bagi saya, bentuk yang tepat untuk five level leadership ini bukanlah lima tingkat yang semcam pyramid tetapi lebih pada satu kategori Leader di atas sebagai puncak dan empat criteria di bawahnya sebagai pondasi. Sebabnya terutama adalah empat criteria tersebut sebagai aspek pembangun dan alat dari level Leader. Kenapa disebut aspek pembangun ialah karena keempat hal tersebut bias menjadi gerbang bagi seseorang yang ingin memposisikan dirinya dalam sebuah laboratorium kepemimpinan yang nyata. Dikatakan sebagai alat karena sekalipun seseorang telah berada dalam posis leader , dia tetap membutuhkan keempat hal ini untuk menunjang kepemimpinannya karena tiap follower membutuhkan pendekatan yan berbeda-beda. Dalam pandangan saya, keempat criteria bawah tersebut adalah alat ynag harus digunakan untuk mencapai tujuan yaitu mencapai sebuah titik puncak di atasnya sebagai leader.
3. TJ dan SP
Dalam TJ kali ini dibahas bab gaya kepenulisan yang merupakan sesuatu instrument yang penting karena membedakan seorang penulis dengan lainnya. Gaya adalah sesuatu yang khas yang tidak bisa ditiru atau dipelajari. Yang bisa dilakukan hanyalah mempelajari gaya orang lain untuk menambah khasanah bagi gaya kepenulisan kita sendiri.
Sedang dalam SP dibahas bab kepemimpinan yang tak jauh berbeda dari sesi TPD. Dibahas bagaimana pengaruh dapat mendefinisikan kepemimpinan dengan begitu lancer.
4. DT
Dalam DT kita dijelaskan tentang sejarah sains umat dimana kita pernah mengalami masa kejayan. Namun sayangnya saat ini kita berada dalam masa kesuraman. Secara sudut pandang filsafat dapat dikatakan kemajuan sains diawali dengan kemajuan ideology dan pemikiran. Hal inilah yang belum dimiliki umat ini.
5. DPK
Sesi kali ini kami dihadirkan bagaiman prospek sebagai anggota legislatrif.
Begitu banyak tantangan yang harus dihadapi dean sudah merupakan tugas seorang pemimpin melaksanakan tanggung jawab ini. Bukan saja dalam ranah eksekutif.

Rabu, 25 Maret 2009

Negara Impian Amerika

Amerika tumbuh sebagai Negara tujuan baru para immigrant pasca munculnya Negara tersebut sebagai kekuatan baru di dunia. Negara ini dipandang sebagai sebuah Negara impian yang menjanjikan banyak keuntungan bagi kaum pendatang di sana. Nilai-nilai yang dipropagandakan amerika sebagai kebebasan, persamaan, dan kesejahteraan di negerinya telah menarik begitu banyak immigran untuk masuk ke sana. Bahkan dengan berbagai krisis yang dialami negara ini, impian untuk menjadi bagian darinya masih menjangkiti kebanyakan masyarakat dunia. Namun, konsep amerika sebagai negara impian seharusnya menjadi pertanyaan yang harus dijawab oleh sang “amerika” sendiri.
Dengan diangkatnya Obama sebagai presiden kulit hitam pertama, harapan baru bahwa amerika akan semakin terbuka telah muncul di kalangan penduduk amerika dan dunia. Padahal dalam kehidupan di dalam masyarakat amerika sendiri, masalah-masalah perbedaan ras, kemiskinan dan kriminalitas masih menjadi topik utama. Konsep impian amerika yang dibangun di atas masyarakat amerika yang beraneka ragam sebenarnya telah membawa amerika kepada masalah baru karena kontrol yang sulit diantisipasi untuk mempersatukan poerbedaan-perbedaan itu dalam masyarakat amerika yang senantiasa bertambah jumlahnya sebagai dampak membludaknya imigrasi. 
Identitas nasional amerika yang telah lama menjadi perdebatan dalam kehidupan amerika saat ini semakin menemukan keruwetannya. Semakin banyak masyarakat yang bergabung dalam masyarkat amerika sama artinya semakin banyak konflik kebudayaan akan lahir dalam konsep identitas nasional amerika. Bukan rahasia jika maenyatukan berbagai unsur keamerikaan dalam sebuah wadah bernama amerika itu sangat sulit. Jarak pengertian antara masyarakat penghuni amerika dengat pendatang atau kaum imigran terlalu sulit ditemukan persinggahannya. Belum lagi begitu bayak masalah sosial dan ekonomi yang dihadapi amerika dalam masa krisis ini.
Pemerintah amerika seharusnya telah menyadari potensi dari masalah immigrant ini. Lebih jauh lagi konsep negara impian amerika harus dikaji ulang oleh amerika sendiri. Apabila amerika masih bersikeras membuat propaganada melalui media dengan tipuan mereka, masalah-masalah yang mereka hadapi tentang para imigran ini jusatru takkan pernah selesai dengan arus pendatang yang berkelanjutan terus. Amerika harus memilih antara mempertahankan citranya atau mengambil langkah strategis yang menghancurkan konsep impian amerika demi terselesainya masalahnya tersebut. 

Sabtu, 14 Maret 2009

Manajemen Waktu

Waktu adalah sebuah unsur kehidupan yang merupakan kehidupan itu sendiri. Sebuah pembeda antara detik satu dengan lainnya yang tidak akan pernah kembali dalam wujudnya yang sama. Sumber daya yang tidak bisa tergantikan harga dan eksistensinya. Manusia-manusia barat pun mengatakan bahwa “time is money”, tapi dalam hemat penulis waktu bukan sekadar uang. Waktu adalah lembaran kehidupan yang disusun atas tinta-tinta yang tidak bisa dihapus dengan konsekuensi apapun. Sebagai seseorang yang menyebut dirinya sebagai praktisi kampus (walau sebenarnya julukan ini pun masih harus dipertanyakan keabsahannya), penulis sering mengamati betapa begitu banyak mahasiswa yang terpanggil sebagai aktivis mahasiswa memiliki pola manajemen waktu yang buruk. Dengan begitu, penulis terpanggil untuk menulis sedikit obat penyadar diri sebagai suplemen pengingat untuk tidak meniru mereka yang kehilangan begitu banyak waktunya hanya karena penerapan kurang tepat atas menajemen pribadinya. Di sinilah konstruksi menajemen waktu itu akan diredifinisi lagi secara objektif oleh penulis yang senantiasa subjektif. 
Hal pertama yang patut dilakukan adalah menemukan definisi dari kata “manajemen”, tetapi dikarenakan penulis tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk melukiskan makna “manajemen”, maka kata redefinisi dalam paragraph sebelumnya akan diartikan sebagai upaya pencapaian ulang pengertian manjemen dalam kata yang dimaksudkan sebagai “tercapainya tujuan yang melebihi puncak dengan pengorbanan yang kurang dari sepantasnya”. Hendaknya pembaca bisa menilai sendiri makna kalimat tersebut karena sekali lagi manajemen adalah sesuatu yang memiliki suatu kemiripan dengan kepemimpinan bahwa hal ini merupakan pembelajaran praktis bukan pemahaman teoritis. 
Redefinisi yang kedua tentu saja tentang waktu yang sebelumnya sudah dibahas sekelumitnya pada paragraf awal. Waktu bagi penulis adalah sebuah nama lain atas kehidupan yang membuat hidup ini menemui hakikatnya karena nilai sebuah kehidupan ditentukan oleh nilai-nilai yang terbentuk oleh waktu dimana kehidupan itu terjadi. Dalam paradigma manajemen penulis, waktu merupakan sumber daya yang paling utama. Sebab semua kegiatan dan usaha memerlukan proses, maka secara apriori waktu dalam tiap jam, menit dan detiknya telah menjadi harga mati yang tidak sanggup terhargai oleh resources pengganti.
“Yesterday is a history, tomorrow is a mistery, but today is a gift”
  Master Oggway, Kungfu Panda
Berangkat dari salah satu falsafah China yang dikutip dari salah satu film animasi terbaik saat ini, penulis mencoba mengklasifikasikan manajemen waktu menjadi tiga kriteria berdasarkan pembagian periodiknya. Pembagian seperti ini tentulah sangat diperlukan sebagai langkah awal manajemen sehingga pembaca lebih mudah memahami pemikiran penulis dalam essai yang perlu penelahaan lebih jauh ini. 
Layaknya perjalanan panjang mengelilingi dunia, pembagian manajemen ini pun membutuhkan sebuah pelabuhan perdana yaitu manajemen masa lalu. Masa lalu senantiasa menjadi momok yang bisa menjatuhkan tiap usaha manusia paling tegar dan membangkitkan bahkan manusia yang paling tidak cakap sekalipun. Bagaiman seharusnya manusia menaggapi masa lalunya baik hal itu sebuah kejayaan maupun kemerosotan adalah menyadarinya sebagai sebuah sejarah yang terdapat pengajaran di dalamnya. Saat pengalaman dikatakan senagai guru yang paling baik, demikian pula ketika pengalaman itu memberikan kegagalan maka yang terbentuk adakah ketakutan yang terdalam untuk bangkit. Sebaliknya ketika pengalaman itu adalah keberhasilan seringkali membutakan kita pada perubahan. Cara yang paling aman tentu saja bersikap netral pada pengalaman ini dan memetik pembelajaran tentangnya.
Babak selanjutnya adalah manajemen masa depan. Masa depan bukanlah suatu hal yang bisa diramal dengan kemungkinan-kemungkinan, tetapi seharusnya dipandang sebagai hasil dari masa lalu dan saat ini. Perencanaan dan pemanfaatan peluang yang ada merupakan inti dari manajemen masa ini. Sebab masa yang akan datang selalu menjadi pertanyaan yang jawabnya selalu datang jika dan hanya jika waktunya telah tiba. Masa depan dalam manajemen dijadikan aset untuk meraih cita, meskipun kadang masa depan itu tidak dapat diandalkan keberadaannya. Setiap orang yang mencoba mengaplikasikan prinsip-prinsip manjemen ini patut membuat visi ke depan yang merepresenyasikan tujuan yang dia miliki untuk mengolah potensi waktu masa selanjutnya.yang perlu diingat bahwa masa depan ini adalah sebuah puzzle yang bagian per bagiannya disusun saat ini, dulu dan nanti. Selamanya masa depan adalah teka-teki yang isiannya dipandu oleh manajemen waktu pembagian kedua.
Manajemen ketiga yang paling fundamentalis sifatnya tentulah manajemen hari ini merupakan masa lalu dan tak perlu risaukan masa depan, yang penting adalah bagaimana hari ini akan berputar sebagai hasil yang baik atas perencanaan yang lalu dan persaiapan yang beanar bagi masa depan. Mengapa manajemen hari ini menjadi dasar bagi prioritas manajemen yang lain adalah karena prinsip waktu yang tidak pernah membalikkan badannya kembali.Saat-saat yang kita miliki sekarang menjadi terlalu berharga tanpa pemanfaatan yang mengagumkan berlandaskan asas efektif dan efisien.
Sebagai penutup, penulis hanya ingin menulis sebait simpulan dari segala keterangan yang ada sebelumnya sebagai sarana refleksi pembaca sekalian.
“Saat bulan merona, saatnya burung pulang ke sarang emasnya 
Sedang bintang menari memberikan petunjuk esok pagi
Dan awan kelam malam menjuntai kesepian meyimpan memoar yang terampas
Biarkan dia melaju seperti senandung lagu menyambut rindu pesona detik kini”
Pada akhirnya manajemen waktu sesungguhnya hanyalah alat yang digunakan untuk mengoptimalkan pencapaian kemanusiaan terhadap salah satu sdmber dayanya.

Jumat, 13 Maret 2009

"Pengecualian Amerika"

Sejarah memuat begitu banyak pengecualian yang dilakukan amerika baik dalam lingkup internal maupun eksternalnya. Pengecualian yang telah melahirkan sebuah konstruksi besar tentang amerika yang besar saat ini. Sebuah negara yang bias dikatakan sebagai satu-satunya negara adidaya yang berkuasa di dunia. Superioritasnya tidak diragukan selama bertahun-tahun pasca perang dunia dan perang dingin berakhir. Sebab pengetahuan dan sejarah selalu berkorelasi erat dengan kekuasaan, tidak salah jika segala pengecualian yang dibuat oleh amerika merupakan alat yang ditujukan untuk membentuk kekuasaan sebuah dunia baru sebagai “The New Era of America”.
Pengecualian dimulai ketika negara ini akan berdiri. Berbondong-bondong manusia pelarian dari eropa menuju sebuah benua baru yang kaya akan sumber daya ala mini. Semua orang datang membawa harapan baru akan terbebasnya mereka dari penindasan feodalisme eropa dengan membentuk koloni-koloni di wilayah yang ditemukan Columbus ini. Nilai kebebasan dan kesetaran menjadi hal fundamentalis yang penting sebagai tonggak perjuangan kemerdekaan amerika. Semua koloni bersatu untuk satu cita-cita ini seperti tertuang dalam “Declaration of Independence” amerika. Sebuah deklarasi yang dianggap salah satu pondasi “Human Rights” tidak cuma di Amerika, tetapi juga di dunia. Di sinilah pengecualian pertama terjadi. Kebebasan dan kesetaraan hanyalah milik kaum kulit putih buangan eropa, bukan milik mereka kaum budak dari afrika. Bahkan tersingkirnya kaum penduduk asli amerika, yang mereka panggil suku Indian, sudah lama dirancang dan diaplikasikan. 
Pada periode selanjutnya, banyak pejuang amerika baik kulit putih seperti Abraham Lincoln pada perang sipil amerika, maupun tokoh kulit hitam Martin Luther Jr. mengupayakan tercapainya kebebasan dan kesetaraan antara masyarakat kulit hitam dan putih di amerika. Baru pada tahun 2009, salah satu indikasi tercapainya tujuan mereka terwujud dengan terpilihnya presiden kulit hitam pertama di amerika yaitu Barrack Obama, meskipun Obama bukanlah seorang kulit hitam sejati karena dia keturunan perpaduan afrika-amerika. Sekarang amerika menjadi negara terbuka dengan begitu banyak etnis yang tergabung di dalamnya, termasuk kaum pendatang baru dari asia dan amerika latin. Kesetaraan gender pun mereka rangkum dalam apa yang disebut demokrasi amerika. Namun pengecualian masih belum berhenti dalam sejarah yang mereka katakan telah terhenti.
Kesetaran dan kebebasan itu termanifestasi dalam sebuah pengkhianatan besar dalam politik luar negeri amerika. Penerapan standar ganda dalam hubungan amerika dan dunia internasional tercermin jelas dalam kasus Israel-Palestina, konflik mereka dengan Iran dan kampanye perang melawan terorisme global mereka di Afghanistan. Banyak pengecualian diciptakan untuk menjaga posisi terdepan amerika sebagai kekuatan terdepan dan satu-satunya di dunia. Salah satu contoh yang berhubungan langsung dengan negara kita adalah ketika terjadi kasus pengeboman Borobudur tahun 80-an, amerika tidak terlau keras berbicara, tapi hal itu tidak terjadi ketika kasus bom Bali menimpa Indonesia belakangan ini, amerika tentu saja berteriak lantang memaksa pemerintah Indonesia bertindak cepat layaknya apa yang terjadi di Timor Leste. Hal ini cukuplah menunjukkan betapa amerika memainkan topeng yang berbeda pada politik luar negerinya yang berhubungan dengan kepentingan pribadi amerika, kampanye global “War on Terror” misalnya. 
Negara yang dibentuk di atas berbagai pengecualian untuk melegitimasi kemerdekannya ini pun dalam perkembangannya telah menciptakan begitu banyak pengecualian untuk melanggengkan kekuasaan mereka pada negeri mereka sendiri dan dunia di sekitarnya. Masyarakat dunia pun dibuat terbelalak karena mereka harus memandang amerika sebagai Amerika dengan huruf “A” besar, bukan sekedar amerika dengan huruf “a” kecil. Sampai kapanpun pengecualian amerika akan terus melahirkan wujudnya yang baru hingga masa jatuhnya negara superpower ini karena sejarah selalu berganti dan tak pernah berhenti di titik manapun ia berada. 

Melihat Sisi Lain Dunia Membangun Indonesia

Mahasiswa adalah salah satu komponen dari perubahan yang diharapkan segera terjadi menuju Indonesia yang lebih. Sudah terlalu banyak nama pemuda Indonesia dengan prestasi mengagumkan yang dengan tidak beruntungnya tidak menemukan fasilitas yang mendukung untuk mengembangkan ilmunya di bumi pertiwi ini. Salah satu penyebabnya tentulah kurangnya apresiasi pada kalangan intelektual nasional, mulai dari fasilitas riset yang kurang, kurangnya bantuan dana hingga lemahnya pendidikan di Indonesia dalam tingkat strata-2 dan 3. Dengan demikian mahasiswa Indonesia selayaknya berusaha menuntut ilmu di luar negeri yang notabene menyediakan kesempatan lebih baik.
Kebanyakan dari kita selalui dihantui ketakutan bahwa kita tidak cukup berkualifikasi untuk belajar di sana. Sebagai contoh, kendala kemampuan berbahasa selalu menjadi salah satu hal yang paling sering disebutkan. Nilai tes TOEFL, IELTS atau IBT yang selalu tinggi membuat sebagian besar mahasiswa Indonesia gentar, apalagi ditambah alasan dengan hambatan komunikasi yang mungkin terjadi saat kita belajar di luar negeri. Padahal perlu diketahui bahwa di negara lain kita akan menjumpai banyak mahasiswa dari berbagai negara dengan kemjemukan dan kemampuan berbahasa yang berbeda. Seharusnya kondisi ini dapat lebih mendorong kita untuk belajar bahasa karena kita berada di lingkungan yang tepat.
Faktor selanjutnya yang tentu menjadi prioritas adalah biaya. Banyak mahasiswa yang tidak menyadari keberadaan beasiswa internasional yang dapat menjadi solusi dari permasalahan ini. Adanya internet seharusnya lebih bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa kita untuk mencari informasi yang berguna seperti ini daripada sekedar membuka website terpopuler di Indonesia saat ini, Friendster. Even-even pameran pendidikan yang diadakan oleh lembaga-lembaga baik dalam maupun luar negeri dapat dimanfaatkan lebih maksimal untuk memperoleh informasi beasiswa yang lebih jelas. Dengan prasarana yang begitu tersedia di sekitar kita, tentu tidak layak untuk mengatakan bahwa kita tidak tahu akan hal itu.
Belajar di luar negeri memberikan pelbagai manfaat bagi kita. Selain karena fasilitas yang lebih baik, kita bisa menambah wawasan melalui interaksi dengan mahasiswa lain, mempromosikan indonesia serta yang terutama ikut membangun dunia pendidikan Indonesia ke depan. Meraih beasiswa dan belajar di luar negeri adalah melihat sisi lain dunia, membangun Indonesia.
 Luvdhy W. Sasing ‘07
 Dept. Kesma BEM FIB Unair
Dept. Kesma FIB Unair mempersembahkan salah satu contoh besaiswa tersebut :
 

HSP Huygens Programme

The prestigious HSP Huygens Programme is open to excellent students from all countries of the world. It is aimed at talented students who want to come to the Netherlands in the final phase of their bachelor’s studies or during their master’s studies. 
The Dutch Minister for Education, Culture and Science has made seven million euros available for excellent students coming to the Netherlands under the HSP Huygens Programme. There is no fixed number of available scholarships. The actual number is determined by the total cost of the variable components of the scholarships.
Your HSP Huygens application must include: 
Print out of the digital application form (signed).
Your personal HSP Huygens nomination letter.
Your curriculum vitae.
Copies of relevant diplomas, certificates and transcripts. 
A reasoned account of your motivation for wanting to study or do research in the Netherlands (about one side of an A4-sized sheet). 
Two letters of reference. 
A copy of your passport or identity card.
Explanation of the required documents
Do not include original documents in your dossier, but make single-sided copies of relevant documents on plain A4-sized paper. All documents must be in either English or Dutch. Documents in any other language must be accompanied by an official translation.
The HSP Huygens nomination letter
The nomination letter is a standardized form used by the institution to provide Nuffic with some details about your unique attributes and your proposed programme of study. The nomination letter from the Dutch institution is a required document for your application for a HSP Huygens Scholarship. Without this nomination letter it is not possible to apply for the HSP Huygens Programme.
Your motivation must include the following points:
- Why you have chosen this study programme or why you have chosen to do the proposed research in het Netherlands.
- What value the programme would add to your previous education.
- What the Dutch programme would mean for your future career.
The letters of reference should be on the institution’s official notepaper (headed paper) and must be signed and dated (a scanned version of your letters of references is acceptable). They must also include:
- Your name.
- The name, position, institution and department of the referee (and their relationship to the candidate).
- Description of the candidate’s excellent academic ability.
- At least one of which should be from your home country or the country where you are currently studying.
Note: Students wishing to follow a professional programme in the fine arts or performing arts should not include a portfolio or samples of their work (e.g. photos or a CD) as these will not be assessed.
Completing your application
If you have collected all required documents for your application, complete the digital application form through the Scholarships Online button. Once you have submitted the digital application, you can then send your documents by post or courier. 
Selection procedure
The most important criterion is top quality in all senses of the word. The Minister for Education has appointed a special committee to assess quality. The committee makes its assessment based solely on your application dossier. 
There are no selection interviews. All aspects of your application dossier are considered when your application is assessed. The committee considers the following aspects:
Your study history and pace.
Your diplomas and grades.
Your nomination letter.
Your reference letters.
The strength of your written motivation setting out why you have chosen this study programme in the Netherlands and the value it can add to your prior education.
The importance of the Dutch programme for your future career.
How well the proposed studies match your previous education.
Extracurricular activities.
You will be informed on the decision of the selection committee as soon as possible after 1 May 2009. The outcome will be published on our website first. We will send all applicants an e-mail explaining how to access this information. You will also receive a letter by regular mail on the outcome of your application.
If you are selected your host institution will in most cases be of service by making arrangements for any practical matters, such as your accommodation, your healthcare insurance and applying for a residence permit.

Taken from : www.nesoindonesia.or.id and www.jasso.go.jp/ryugaku/

laboratorium kepemimpinan II

“Di bawah senjakala biru yang mewarnai tiap derai-derai atap kelabu Universitas Airlangga, sekiranya Laboratorium Kepemimpinan itu coba aku wujudkan.” Itulah sekelumit kata-kata yang pernah terbesit sehabis saya menulis artikel bulan lalu. Jika dalam artikel tersebut saya lebih menekankan pada fakta bahwa kepemimpinan itu adalah sesuatu yang tumbuh atau ditumbuhkan melalui sebuah laboratorium kepemimpinan. Kali ini, yang ingin saya kupas adalah tentang bagaimana laboratorium itu dibangun. 
Bagaimana kita dapat mempelajari sebuah ilmu yang cenderung pada praktik bila sarana untuk praktik itu saja tidak ada. Dari dasar itulah, laboratorium kepemimpina harus ada dan dimilki oleh mereka yang menginginkan menjadi bagian dari penerima tampuk kepemimpinan bangsa ini nantinya. Jika leadership dibangun di atas kepercayaan dan respek, maka kepercayaan dan respek itulah yang harus kita rebut terlebih dahulu. Mengapa harus direbut? Tentu saja karena masyarakat tidak akan serta merta memperikan kepercayaan dan penghormatan pada mereka yang tidak berkompeten. Mungkin inilah salah satu sebab mengapa seleksi masuk asrama PPSDMS tergolong berat. Sebuah perubahan biasanya diawali hanya oleh segelintir manusia saja. Manusia yang dibutuhkan di sini adalah manusia yang mau dan mampu merubah dirinya sebelum merubah orang lain. 
Membangun sebuah laboratorium kepemimpinan dalam sebuah organisasi tidaklah sama artinya dengan menjadi ketua dalam organisasi tersebut. Sekali lagi yang harus ditekankan adalah kesadaran bahwa pemimpin itu bukanlah jabatan formal melainkan sebuah pilihan yang harus diambil dari sudut apapun posisi struktural kita yang nantinya akan dilegitimasi oleh kepercayaan dan respek anggota. Bagaimanapun juga baik kepala maupun ketua bahkan pemimpin sekalipun tetaplah merupakan bagian dari sebuah tim organisasi tersebut. 
Satu hal yang telah saya pelajari selama ini bahwa untuk membangun sebuah labolatorium kepemimpinan itu kita seharusnya sadar pada makna dalam kalimat ini : “ kita harus menerima secara sempurna bahwa orang lain sama halnya kita adalah tidak sempurna dan perubahan itu pun tinggal menunggu waktunya.” 

laboratorium kepemimpinan

“Pemimpin itu tidak ditunjuk atau dibentuk. Pemimpin itu lahir dan tumbuh bersama rakyatnya….” Soekarno

Ketika sore ini saya berbicara dengan teman searama yang kebetulan ketua asrama kami yang baru, teringat kalimat di atas. Salah satu kalimat yang paling saya ingat dari wawancara Ir. Soekarno dengan seorang wartawan wanita asal AS, Cindy Adam, menjelang jatuhnya demokrasi terpimpin. Sang wartawan bertanya pada sosok kharismatik ini tentang siapa penggantinya, figur flamboyan ini menjawab dengan tenang dengan kalimat tersebut. 
Dalam relevansinya dengan program pembinaan PPSDMS, sebuah beasiswa berasrama yang bertujuan menciptakan pemimpin masa depan bangsa ini, sesuai dengan jargon yang di usungnya “creates future leader” tentulah diharapkan output yang dihasilkan sesuai dengan ekspetasi awal sehingga program ini dapat dikatakan berhasil. Tetapi bila ditilik lebih jauh pada tiap program pembinaanya, mulai dari Kajian Islam Kontemporer, Kajian Islam Pekanan, Tahsin, Training Jurnalistik, Taekwondo dsb, segmentasinya justru bukanlah mainstream dari penciptaan kepemimpinan itu sendiri melainkan pada penguasaan wacana dan improvisasi wawasan yang nantinya akan membantu peserta dalam mengembangkan pola pikir yang lebih global dan aspek fundamentalis Islam yang memang merupakan visi terbentuknya program ini. Lain lagi dengan Training Pengembangan Diri yang bertujuan pada dasarnya untuk membentuk pribadi peserta dalam perkembangan mereka selanjutnya. Meskipun begitu, menurut saya, program ini hanyalah pendukung dari pengembangan kepemimpinan peserta, sekali lagi bukanlah tonggak sebenarnya yang secara langsung membentuk sebuah kepemimpinan karena memang kepemimpinan itu tidak bisa dibentuk, dlam hal ini saya setuju dengan perkataan presiden pertama kita. Lalu pertanyaannya adalah dimana sebetulnya jiwa kepemimpinan itu akan lahir.
Bila kita mencemati kalimat kedua dari quote di awal tadi, “Pemimpin itu lahir dan tumbuh bersama rakyatnya….” Jawabannya sudah bisa kita pastikan bahwa kepemimpinan itu dapat dipupuk justru melalui praktik dalam sebuah laboratorium sosial kehidupan yang lebih suka saya sebut masyarakat. Dalam tema ini adalah rakyat yang harus kita perjuangkan nantinya. Asrama adalah program riil sesungguhnya yang dapat menjadi periode awal dari laboratorium kepemimpinan ini. Meskipun di luar sana tentulah setiap peserta memiliki laboratorium kepemimpinannya masing-masing yang jika dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya akan melahirkan mereka sebagai pemimpin yang sebenar-benarnya pemimpin karena periode lanjut dari pembinaan singkat selama dua tahun ini adalah sebuat tanggung jawab besar di luar sana yang telah kita tanggung sejak kita hirup udara untuk pertama kalinya, sebuah bangsa bernama Indonesia.
Asrama adalah laboratorium sosial yang dimiliki bersama. Di sinilah para peserta dituntut untuk tumbuh sebagai pemimpin sekaligus rakyatnya dalam sebuah masyarakat asrama dan segala realita kehidupan yang menyertainya. Peserta didorong untuk bicara sekaligus mendengar, bertindak sekaligus memberi komando. Lebih jauh lagi, bila kita mengerucutkan pengamatan ini pada asrama regional IV Surabaya, sebuah asrama yang notabene dihuni orang-orang yang paling majemuk diantara yang lain dan keadaan fisik asrama yang mungkin tersederhana pula, tersaji sebuah kehidupan bervariasi pesertanya yang secara subjektif berdasar pengamatan saya, merupakan manusia-manusia yang secara unik belajar kepemimpinan dengan cara mereka sendiri yang kebetulan sedikit out of the box dari garis besar yang sudah dimapankan. Bisa dikatakan di sini adalah pusat dari para outlayer yang cenderung memberontak pada sistem yang ada. Adapun demikian, saya temukan sesuatu aneh yang melekat pada kelompok itu, bukan semuanya tentu, sebuah bibit kepemimpinan yang telah tumbuh dalam diri mereka melebihi yang lain. Semangat yang sama yang selalu saya jumpai pada kalimat proklamator kita sebelumnya bahwa kepemimpinan bukanlah sesuatu yang kita bentuk ataupun yang diilhami sejak lahir, melainkan proses pendewasaan yang kita alami dan tumbuh seiring dan bersama dengan orang-orang yang kita pimpin. Bila ingin menjadi pemimpin yang baik maka lihat, dengarkan dan rasakan serta pelajari laboratorium kepemimpinan yang kita miliki, semua pengetahuan dan teori hanyalah pendukung sedang pembelajaran yang sebenarnya adalah kenyataan yang senantiasa kita hadapi. Bagi saya, kehidupan asrama adalah program pembinaan kepemimpinan yang eksistensinya melebihi program-program lainnya. Walaupun sesungguhnya esensi laboratorium kepemimpinan ini akan kita resapi kesejatiannya di luar asrama dan semua atributnya saat ini dan nanti. Satu yang saya pahami, manusia tidak boleh terbelenggu oleh nilai-nilai yang mereka ciptakan sendiri. Human, all to human*.


*) Nietzsche

resume februari

1. TPD
Dalam tingkatan kepemimpinan, yang harus kita perhatikan terlebih dulu adalah esensi dari apa yang dinamakan kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan dibangun atas dasar trust and respect. Kepemimpinan dibangun dan ditumbuhkan, bukan dilahirkan. Harus ada proses berkelanjutan untuk menempa kepemimpinan itu. Posisi seorang pemimpin berbeda dengan pimpinan, seorang ketua organisasi tidak serta merta menjadi pemimpin karena pemimpin itu adalah sebuah pilihan yang akan kita ambil dalam perjalanan hidup kita sebagai manusia. Dalam 5 tingkatan leader, pemimpin dipatuhi anggotanya dengan motivasi yang berbeda-beda. Dimulai dari yang paling rendah, posisi structural, hubungan interpersonal, prestasi, kontribusi dan personal quality as a leader. Sebab sebuah kepemimpinan adalah sebuah proses, tidak masalah dimana kita berdiri sekarang, tapi bagaimana kita berada di masa depan. Sebuah kepemimpinan tak bisa dilepaskan dari sebuah aspek kebersamaan dengan anggota karena seornag pemimpin harus sadar akan tanggung jawab yang ia dapatakan sebagai konsekuensi dari anggota yang ia pimpin. 
2. DT
Pada pertemuan kali ini, kami bertemu dengan Prof. Dr. Ki Supriyoko membahas implikasi disahkannya UU BHP bagi masa depan pendidikan di Indonesia. Dengan referensi jumlah mahasiswa di Indonesia yang cuma 2.7 juta dan jumlah penduduknya 250 juta jiwa, maka sangat memprihatikan apabila sarana pendidikan tidak diolah dengan seprofesional mungkin. Apalagi dengan angka perbandingan jumlah mahasiswa dengan jumlah penduduk usia mahasiswa yang hanya 13.9 %, maka realitas UU BHP harus dikaji ulang. Pada prinsipnya. UU BHP ini memiliki banyak kelebihany yang dengan tidak beruntungnya justru ditafsirkan berbeda oleh beberapa mahasiswa dan masyarakat umum yang takut akan implementasi dari UU BHP ini jika diterapkan nanti menemui penyelewengan. Akibat-akibat yang mungkin terjadi yang seharusnya kita sadari adalah bahwa kualitas pendidikan tidak akan berubah karena UU, penyelenggara pendidikan terkuras energinya menghadapi keruwetan penyelenggaraan, dan UU tidak akan baik jika tidak akan diimbangi implementasi di lapangan. 
3. DPK
Dalam pertemuan kali ini, kami membahas profesionalitas dan profesionalisme yang merupakan masalah utama yang dihadapi umat Islam kontemporer. Perlu kita ketahui, kebersihan dan integritas adalah nilai-nilai yang sudah ada dalam Islam sejak dulu, namun pada kenyataannya banyak institusi yang mengaku islami tidak dapat mewujudkannya dalam dunia nyata. Hal inilah yang menjadi problem kita ke depan untuk diubah menjadi lebih baik. Bukan hanya pada tataran praktisnya, tapi juga pada tataran isme yang menjadi mindset kita. 
4. TJ dan SP
Pada training jurnalistik kali ini kami membahas pentingnya perpustakaan pribadi untuk menambah dan menyimpan referensi yang kita butuhkan. Dengan adanya manajemen perpustakaan yang baik, maka kita tidak akan susah untuk menemukan literatur yang kita butuhkan untuk sebuah karya yang ingin kita buat karena perlu diingat dalam sebuah argumen adalah sebuah bahasa universal yang dipahami oleh semua orang. Sedang dalam studi pustaka dibahas buku umat islam menyongsong abad 21 karya Dr. Yusuf Qaradhawi. Buku ini mengupas keberhasilan dan kegagalan umat islam saat ini. Yang paling menarik adalah fakta bahwa buku ini ditulis dengan begitu objektif.
5. KIK
KIK kali ini membahas fiqih prioritas dalam urutan ibadah dan usul fiqihnya. Fiqih prioritas membahas dimana skala prioritas kita harus ditetapkan. Sebagai contoh yang melibatkan nyawa manusia atau melanggar larangan semacam makanan haram dan sentuhan lawan jenis tentulah yang harus didahulukan adalah nyawa manusia dengan pelaksanaan yang proporsional. Tapi jangan perbah menempatkan skala prioritas yang tidak tepat karena keadaan yang timbul akibat kesalahan kita. Sebab tentu saja konteksnya berbeda. 

resume januari

1. KIK
Untuk pertama kalinya KIK tidak lagi dipandu oleh Ust. Musholli, kami membahas tentang gerakan zionisme Israel yang sekarang pun sedang hangat-hangatnya dibahas di media massa akibat tindakan kejahatan kemanusiaannya di Palestina. Agaknya apa yang pernah ditakutkan Hitler sebagai bahaya masa depan bahwa dunia akan dikuasai oleh kaum yahudi sekarang telah menemukan kebenarannya. Israel sebuah daerah kecil dengan jumlah penduduk yang sedikit pula telah menempatkan orang-orang dalam posisi-posisi strategis di dunia, mulai dari ekonomi, politik, dsb. Bahkan Mossad, agen intelejen rahasia Israel, disebut-sebut sebagai yang terbaik di dunia mengalahkan CIA yang terkenal itu. Satu hal yang patut dicatat adalah bahwa perjuangan yang dilakukan kaum zionis untuk mencapai puncak seperti saat ini adalah bukan tanpa alasan, tetapi lebih kepada usaha keras yang mereka lakukan. Asalkan usaha dan perjuangan telah ditempuh maka hasilnya pun bukan hnaya bisa diharapkan, melainkan diraih dan didapatkan. Palestina bisa direbut seperti pada masa Salahuddin Al Ayyubi adalah juga lahir dari usaha yang memeras tenaga dan pikiran. Yang perlu dilakukan oleh umat Islam sekarang adalah bersatu dengan menguatkan negaranya masing-masing, selain juga menciptkan kesatuan dalam negeri palestina sendiri.
2. TPD
Dalam TPD kali ini kami membahas management by process yang menyebutkan bahwa dengan perkembanagan modern saat ini , system manajemen yang digunakan seharusnya minimal adalah sistem ini. Dalam system manajemen ini, kita bukan hanya memperhatikan result, tetapi harus juga sadar akan adanya proses di balik hal itu. Dalam team building yang paling mendasar sebenarnya adalah adanya apa yang dinamakan shared meaning, vision and values. Tiga hal yang menjadi peletak dasar dari team building yaitu sebuah kesepakatan bersama yang menjadi patokan untuk sebuah organisasi baru ke depan. Satu hal lagi yang patut diperhatikan adalah perbedaan orientasi antara means and end, alat dan hasil akhir, pada diri tiap orang sebagai bagian dari organisasi. Orang yang berorientasi pada alat senantiasa berlindung kepada usaha yang telah dilakukannya, tanpa memperhatikan hasilnya optimal atau tidak. Sedang bagi yang berorientasi pada hasil akhir, mereka akan memastikan sampai pada titik dimana hasil kerja mereka dapat bermanfaat dengan optimal. Pada dasarnya, setiap orang maupun atasan hanya menilai kita dari result.

3. DT
Pada kali ini, kami mengikuti DT di regional 3 saat studi banding. Tokoh yang dihadirkan adalah P. Bambang, salah satu Pembina PPSDMS. Beliau menjelaskan tentang pergeseran ideology kita saat di dunia nyata, lebih khususnya saat kita telah berkarir. Menghadapi nilai-nilai yang mungkin bertentangan dengan ideologo kita saat bekerja, kita seharusnya bisa lebih fleksibel dengan memperhatikan tujuan dan kepentingan yang lebih besar di masa depan karena suatu saat kita akan dipaksa menanggalkan ideologi kita untuk sesuatu hal. Tetapi hal ini tidak berlaku pada nilai-nilai fundamentalis dari ideologi kita.nilai-nilai prinsipil ini adalah hal yang tidak dapat ditoleransi lagi karena inilah factor yang membangun ideologi kita. 

4. DPK
Kali ini, DPK menhadirkan dua alumni PPSDMS Regional IV Surabaya yang bergerak di bidang entrepreneur dan keilmuan. Satu orang pengusaha dan seorang lagi adalah dosen yang kebetulan juga adalah pengusaha. Satu hal yang menjadi catatan saya yang menambah ketidakpercayaan saya pada life plan adalah kenyataan dari banyak alumni
yang mengingkari peta hidup mereka. Penyebabnya hanya satu yaitu kesempatan. Bagi saya, ketika ada kersempatan , saat itulah kita harus memanfaatkannya karena tidak semua kehidupan nyata itu mendukung peta hidup kita. Banyak faktor-X yang tidak dapat kita nafikan keberadaannya. Solusinya tentu tinggal pada rencana cadangan yang harus kita miliki beserta kemampuan memanfaatkan peluang yang ada. Yang say terapkan hanyalah manajemen target yang saya persiapkan untuk masa depan dan manajemen waktu untuk jangka waktu yang lebih pendek.

5. TJ dan SP
Dalam TJ kali ini, kami dijelaskan tentang pentimgmya sebuah resensi buku untuk memahami buku itu dengan lebih mudah dan memberi pendapat kita pada buku tersebut. SPmengangkat buku pilar-pilar kebangkitan umat yang member kita kata kunci untuk membangkitkan umat yang tertidur panjang yaitu persatuan.