Selasa, 19 Agustus 2008

Beban kita…

Olimpiade Beijing 2008 sudah cukup bagi kita untuk menyadari sebuah negara besar telah lahir sebagai kekuatan baru dunia , Cina, yang bukan saja militer dan ekonominya, tapi bidang olahraganya pun sanggup menunjukkan taringnya di kancah internasional mengalahkan negara-negara barat yang notabene memiliki tradisi kuat dalam perhelatan-perhelatan sebelumnya. Ketika kita, bangsa Indonesia, telah berbangga berhasil mempertahankan tradisi emas dalam olimpiade kali ini, entah standar kebanggaan kita yang turun atau kebanggaan itu telah tiada dan bersemayam hanya dalam besi-besi tua di museum-museum kebangsaan, Cina masih bertengger di puncak klasemen sementara perolehan medali olimpiade. China yang oleh sebagian besar kaum religius Indonesia dan bahkan oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia dianggap negatif karena ideologi sosialis-komunisnya yang diketahui secara sempit maupun salah telah bertentangan dengan prisnsip ber-ketuhananan kita, entah karena ketidaktahuan masyarakat Indonesia atau trauma historis bangsa kita yang selalu digembar-gemborkan untuk mendukung infiltrasi negara-negara barat liberal-demokratis pada hampir semua sektor kehidupan berbangsa dan bernegara negeri ini.

Bila kita mau melihat hal ini dengan sedikit usaha untuk meng-objektif-kan diri sedikit saja maka yang terbesit adalah kata Shincahai. Shincahai adalah sebuah sekolah olahraga elit di Peking, lebih dikenal sebagai Beijing, yang diperuntukkan bagi atlit-atlit Cina untuk dibina secara profesional dengan infrastruktur yang memadai sejak usia dini. Dengan persiapan sematang itu, meskipun kita tak bisa menisbikan peran faktor tuan rumah, tak mengherankan jika Cina pada akhirnya akan mernjuarai salah satu kompetisi olahraga terakbar di dunia ini.

Indonesia, sebuah negara yang tak terpaut terlalu jauh dari Cina dalam hal luas wilayah, sumber kekayaan alam dan jumlah penduduknya, yang mengaku sebagai bangsa yang beragama, tak mampu menandingi kemajuan Cina yang justru dikuasai rezim komunis. Apakah benar bahwa sebenarnya keadaan bangsa ini adalah bangsa yang mempunyai agama, tetapi belum ataupun tidak beragama, semoga saja sudah atau belum. Sebagian kalangan pasti menyebut pertanyaan ini sebagi pertanyaan konyol, tak nasionalis-agamis atau lebih parah mendukung komunisme-atheisme di Indonesia. Sebagian lagi berkata ini hanyalah problem kasuistis, generalisasi, stereotype atau menyatakan bahwa tidak semua orang Indonesia seperti itu. Semua pernyataan itu mungkin benar, tetapi sekali lagi saya mengajak kita semua untuk mencoba meng-objektif-kan diri sejenak. Berdasar realitas yang ada pada sebagian besar masyrakat Islam, sebagai agama mayoritas di republik presidensial multipartai ini, terutama bila kita mengambil contoh dari kaum perempuannya, banyak yang tidak atau belum memakai jilbab sebagaimana mestinya busana itu dipakai atau lebih ironis bahwa pengenaan jilbab hanya sebagi bagian dari mode yang mengikuti trend yang berkembang di barat yang kebanyakan menganut kaidah bahwa tubuh manusia juga merupakan bagian dari seni yang layak dinikmati oleh manusia-manusia lainnya. Agaknya pertanyaan tadi cukup relevan untuk diajukan pada masa kontemporer ini.

Masalah yang timbul pada masyarakat Indonesia yang dalam pandangan saya pada umumnya mempunyai agama tapi tidak atau belum beragama ini, semoga pandangan saya ini salah dan merupakan bagian dari subjektivitas manusia saja, adalah kejujuran yang patut diragukan kembali setelah banyaknya pimpinan negara ini yang mendekam dalam empuknya kasur penjara khusus mereka, sebuah kenyamanan yang diperoleh justru bagi mereka yang merampok negara ini dan menyebabkan lebih banyak manusia Indonesia yang harus menempati bilik-bilik prodeo kelas dua. Begitu berbeda dengan Cina ynag menghukum koruptornya dengan hukuman mati, terlepas dari perdebatan apakah hukuman mati ini menimbulkan efek jera atau tidak, hal ini telah membuktikan keseriusan pemerintah Cina memberantas kasus korupsi di negara mereka.

Nilai-nilai kejujuran yang diakui bahkan dipegang teguh oleh seluruh manusia di bumi ini telah tertunduk dalam samar-samar keberpura-puraan masyarakat kita. Siapa yang tak mengetahui banyaknya rahasia umum yang dilegitimasi sebagai bagian dari budaya “mikul dhuwur mendhem njero” yang bukan cuma dianut oleh manusia Jawa tapi hampir oleh semua manusia Indonesia, agaknya pertanyaan akan superioritas Jawa ini tidak perlu dijawab saat ini karena membutuhkan pembahasan yang lebih luas lagi, bahwa politik dagang sapi yang menjadi salah satu asas terbentuknya moral KKN pada masyarakat kita telah mengakar kuat menghujam negeri ini sebagai akumulasi dari masa lalu yang dengan beruntungnya harus dinikmati oleh generasi saat ini dan yang akan datang.

Sebagai penutup untuk mengawali hari, kunci keberhasilan dari perbaikan bangsa ini terletak pada generasi muda dan penerusnya yang masih segar dengan nilai-nilai ideologinya yang ideal dan terbebas dari pengaruh mentalitas Inlander warisan kolonial maupun mentalitas KKN bentukan masa lalu. Yang patut kita lakukan bila tidak bisa menghapus keburukan itu saat ini, marilah ciptakan sebuah generasi yang bebas dari keburukan ini dan biarkan mereka membangun Indonesia yang lebih baik! Indonesia memang sudah lebih baik, tapi standar kebaikan mana yang kita pakai? Standar kebaikan yang sudah tereduksi oleh kelamnya zaman atau terdefinisi oleh kaum dari masa silam? Sebuah pertanyaan yang masih menanti sebuah jawaban. The answer rely on how we give our best efforts for the better days of Indonesia.

Tidak ada komentar: